Maha suci Allah yang menghadirkan siang dan malam dalam kehidupan
manusia di permukaan bumi. Dengan siklus yang senantiasa berputar itu,
Allah subhanahu wata’ala membuka kesempatan perbaikan bagi siapa saja
yang menghendakinya. Ia adalah rentang waktu yang cukup luas untuk
mereka yang sadar akan perubahan.Manusia yang merenungi kegagalannya, mencari penyebabnya dan kembali
merumuskan langkah masa depan. Manusia yang sedang bersedih, namun tak
lama setelah itu ia menghapus airmata dan kembali menulis rencana.
Manusia yang berfikir keras mengkalkulasikan semua potensi. Manusia
yang mengenal betul seberapa kuat penghalang dan bagaimana cara
melumpuhkannya. Manusia yang selalu menumpuk harapan dan semangat lalu
menghabiskannya di medan perjuangan.Semangat akan perubahan adalah karunia yang Allah subhanahu wata’ala
hadiahkan bagi mereka yang menelusuri watak dien ini, sekaligus
memahami sejarahnya. Mereka merasakan semangat itu sebagai suatu yang
bersemayam dibalik pelaksanaan syariat dan peningkatan ruhiyah.
Semangat ini tumbuh dengan kokoh dan kuat; dimana manusia tidak mungkin
dapat menundukannya. Hanya saja, ia begitu sulit dilukiskan dengan
ungkapan-ungkapan yang terbatas. Ia menampakan diri dalam wujud apapun
untuk mencapai tujuan. Ia juga muncul sebagai prilaku dan perbuatan
yang teramat sulit untuk diganti dalam bentuk kalimat yang sederhana.Semangat Islam itulah, sesungguhnya merupakan warisan fakta histories
dalam sejarah Islam. Dimana tercatat di dalamnya bahwa Islam sebagai
konsepsi dan nilai-nilai, telah mampu menciptakan pribadi-pribadi dan
fakta-fakta histories yang mengagumkan. Sehingga ia tidak bisa sekedar
dianggap sebagai kumpulan teori, petunjuk dan nasehat belaka. Tidak
pula hanya sekedar gambaran utopis.
Teladan tentang kesucian jiwa, keberanian hati, pengorbanan yang amat
mengesankan, keterlibatan pemikiran, kecemerlangan konsep dan
kepahlawanan hidup dan tersebar di semua segi kehidupan. Hampir-hampir
tidak dapat dihitung jumlahnya oleh sejarah manusia.
Kita, tidak bisa tidak, harus membuat kaitan menyeluruh antara
kepahlawanan dan fakta histories yang tersebar dimana-mana itu dengan
ruh Islam yang memiliki kemampuan besar; dan dianggap sebagai sumber
kekuatan yang melimpah ruah.
Tidaklah keliru bila kita mengembalikan semua kepahlawanan itu sebagai
sebuah karya jiwa yang kokoh dan kuat. Karena ia adalah suatu gerak
yang bersifat universal dan menyeluruh yang saling berkaitan dengan
semua kekuatan itu. Lahiriyah yang bersifat individual tetapi
hakikatnya universal. Itulah yang terwujud dalam kenabian Muhammad
shalallahu’alaihi wasallam yang telah memperoleh curahan seluruh
kekuatan tersebut. Yang secara sempurna memperoleh kemampuan dan
kesabaran menjalankannya dalam waktu yang cukup lama. Sebab dalam
kenabian itu terdapat kekuatan universal dan bukan kekuatan individual.
Kemudian membumbunglah kekuatan-kekuatan besar yang ada di dalam diri
sahabat Muhammad di bawah naungan kenabiannya. Itu pula yang terjadi
dalam diri para pemeluk risalahnya sepanjang perjalanan sejarah.
Semangat Kemenangan
Jika kita melihat kemenangan Islam atas dua Imperium (Romawi dan
Persia), maka wajib bagi kita untuk mengkaitkannya dengan semangat
Islam ini. Kemanangan Islam berarti kemenangan konsepsi ruhaniyah yang
menaungi jiwa manusia muslim. Demikian pula dengan keberhasilan mereka
menundukan pengaruh kemewahan yang diperoleh dari dua Imperium kaya
raya itu. Semuanya tidak mungkin dapat dicapai tanpa semangat Islam
tersebut.
Imam Hasan Al Banna menyebutkan setidaknya ada tiga fikrah yang ada
dalam jiwa kaum muslimin pertama, kemudian menjadi pilar-pilar
kemenangan mereka:
Fikrah pertama, Ta’ashub (fanatic) terhadap risalah Allah subhanahu
wata’ala. Sumber utama dan pertama yang menjadi dasar pengambilan
rujukan generasi pertama adalah Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an. Hadits
Rasulullah beserta petunjuk-petunjuk praktisnya hanya merupakan
refleksi sumber utama. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam
membatasi
sumber pengambilan generasi pertama, ketika pada masa takwin ar-rijal
(pembentukan) hanya kepada kitabullah semata. Hal tersebut dimaksudkan
untuk membersihkan jiwa dan meluruskan orientasi mereka. Karena itu,
Rasulullah menunjukan kemarahannya ketika Umar ibn Khathab mencoba
mengambil sumber lain (dari Taurat).
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam juga mengokohkan keyakinan
mereka
bahwa risalah yang ada dihadapan mereka merupakan risalah yang paling
mulia, paling tinggi dan paling sempurna. Ia adalah kebaikan dan
selainnya adalah keburukan. Ia adalah kebahagiaan, sedangkan selainnya
adalah kesengsaraan.
Fikrah kedua, mengkuduskan Ukhuwah Islamiyah. Wujud kongkrit dari
ukhuwah Islamiyah berasal dari penyesuaian hati kepada fitrah sebagai
hamba Allah yang telah terbebas dari unsur-unsur yang mengotori hati
itu. Tegasnya. Ukhuwah Islamiyah yang fitrah itu tidak akan pernah
terwujud dengan baik apabila jiwa dan tubuh umat ini tidak mencoba
menyesuaikan diri kepada fitrah, dalam arti dengan memurnikan ketaatan
dan menunjukkan ketaqwaan kepada-Nya. Kesucian, keluhuran dan keeratan
ukhuwah Islamiyah dapat berangsur hilang dan menguap jika salah satu
subyek pelaku ukhuwah itu mengabaikan nilai-nilai Illahiyah. Inilah
hakikat dari sebuah jargon abadi ukhuwah Islamiyah. “Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara…” (Qs. Al Hujuraat:10)
Lebih lanjut Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam memberikan
perumpamaan terhadap ukhuwah Islamiyah dalam haditsnya yang sudah kita
kenal, “Perumpamaan orang yang beriman dalam berkasih sayang adalah
mereka itu seperti tubuh yang satu. Apabila mengaduh salah satu dari
anggota tubuhnya, maka memanggil keseluruh tubuhnya sehingga terjadilah
ia ikut merasakan panas atau demam”. (HR.Bukhari-Muslim)
Dalam kenyataan di lapangan kalimat Rasulullah shalallahu’alaihi
wasallam ini dibuktikan beliau dengan menegakan ukhuwah sebagai langkah
teknis dan strategi dalam mempercepat proses integrasi kaum muslimin
saat itu. Untuk itu Rasulullah merintisnya terlebih dahulu dengan
mengkondisikan ruhiyah para sahabat sehingga terjalin ikatan yang kuat
dan menyatukan hati maupun pikiran mereka. Dari situlah kemudian
tercipta sebuah tatanan system keummahan, cita-cita da’wah Rasulullah
shalallahu’alaihi wasallam.
Oleh karenanya, dengan menegakan ukhuwah Islamiyah kita sebenarnya
sekaligus membangun cita-cita keummahan, sebuah tatanan masyarakat
Islam.
Fikrah ketiga, Jamaah yang Solid. Yang dimaksud jamaah Islam yang solid
adalah jamaah yang tidak dibatasi oleh mazhab tertentu, tidak
dimonopoli oleh masyarakat tertentu dan kepemilikannya tidak boleh
diklaim oleh kelompok tertentu. Singkatnya, mereka adalah yang bekerja
sama melibatkan siapa saja yang ikut andil dalam menyerukan Islam.
Di tangan merekalah berkumpul semua harapan dan impian. Harapan untuk
mengembalikan rasa percaya diri kaum muslimin. Mereka membuang semua
rasa kebimbangan yang telah diwariskan dari kekalahan-kekalahan yang
dialami umat ini. Mereka yang akan membangkitkan jiwa, menghidupkan
hati dan menajamkan nurani dan perasaan.
Jamaah yang solid akan menyatukan kaum muslimin berdasarkan pemahaman
yang jelas tentang Islam. Selama kaum muslimin tidak bertemu dalam
pemahaman yang sama, perjalanan mereka tidak akan pernah lurus dan
orientasi mereka tidak akan pernah berpadu.
Jamaah yang solid akan mendorong kembalinya potensi kemenangan kaum
muslimin. Mereka yang akan membangkitkan hasrat, mengajak kaum muslimin
untuk melakukan peran mereka kembali dan memformat ulang mentalitas
mereka.
Islam membutuhkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat perkasa, kumpulan hati
yang
segar bergelora, perasaan yang bergairah dan menyala, semangat yang
membara, pandangan jauh ke depan, idealisme yang tinggi dan tujuan yang
luhur. Akhirnya, pertolongan Allah subhanahu wata’ala akan
menghampiri
kaum muslimin sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya telah tetap janji
Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi Rasul (yaitu) sesungguhnya
mereka yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami
itulah yang pasti menang”. (Qs. Ash-Shaffat:171-173). Wallahu
a’lam.
–
Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia.
Kita berbeda bukan kerena kita lebih utama.
Kita berbeda karena perbedaan tersebut adalah pilihan,
dan kita telah memilih.
Kita memilih untuk bersama keimanan.
Kita memilih untuk berhimpun dalam ketaatan.
Kita memilih untuk bergerak dalam aturan.
Kita memilih Islam untuk kehidupan kita.